Friday, June 11, 2010

Soal Israel Tak Sekedar Kekuatan Politik, Tapi Ada Zionisme

Talmud yang dianggap sebagai kitab suci kaum Yahudi, dinilai banyak mengajarkan rasisme dn kebencian terhadap non-Yahudi

Hidayatullah.com—Penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap muslim Palestina, bukanlah sekedar masalah kekuatan politik belaka. Hal ini diungkapkan oleh Bachtiar Nasir pada acara launching ‘Spirit of Aqsha’, sekaligus diskusi dengan tema “Dialog Media,kebrutalan Yahudi: Akar dan Solusi”, Kamis siang (10/6) di Kedai Tiga Nyonya Jl Wahid Hasyim 73 Menteng, Jakarta Pusat.

“Yang kita hadapi bukanlah sekedar masalah kekuatan politik, tetapi kita berhadapan dengan Zionisme sebagai suatu ideologi iblis,” tegasnya.

Menurutnya, untuk memahami Israel perlu memahami terlebih dahulu tentang Zionisme dan perbedaannya dengan Yahudi,” Yahudi itu berbeda dengan Zionisme, ada Yahudi sebagai agama, Yahudi sebagai bangsa, dan Zionisme sebagai ideologi, karena di Israel pun banyak Yahudi yang menentang Zionisme, ” tegasnya.

Ia membedakan lantaran, menurutnya, Zionisme bukan berpegang dengan Taurat tetapi berpegang pada Talmud dan Protocol of Zion yang  sumbernya bukan dari Tuhan. ”Zionisme itu berpegang pada Talmud dan Protokoler, yang bersumber bukan dari Tuhan tetapi dari Iblis. Di dunia ini kitab itu ada dua, satu kitab Tuhan dan yang satu kitab Iblis, dan mereka berpegang pada kitab Iblis tersebut,” imbuhnya.

Menurut Bachtiar Nasir, Talmud yang dianggap sebagai kitab suci kaum Yahudi Israel banyak mengajarkan rasisme dn kebencian terhadap bangsa dan agama selain Yahudi, seperti ungkapan bahwa ‘bangsa Goyim (bangsa di luar Yahudi) sebagai anjing’, bangsa selain Yahudi ruhnya berasal dari binatang, sedangkan bangsa Yahudi berasal dari ruh Allah,dan pernyatan-pernyataan Talmud lainnya yang lebih rasis dan menghinakan bangsa lain.

Dan dari ideologi inilah negara Israel didirikan, yang sejak didirikannya Israel muslim Palestina terkena teror dan penjajahan yang tidak berprikemanusiaan, karena ideologi ini berdiri di atas pandangan-pandangan yang sesat.

“Kita bukan berhadapan dengan manusia seutuhnya, tetapi kita berhadapan dengan bangsa yang kera dan babi, sehingga pantas saja perlakuan mereka begitu sulit dipahami melalui sisi kemanusiaan, “ tandasnya.

Launching yang disertai diskusi dengan suasana keakraban tersebut berjalan dengan lancar, serta diramaikan oleh undangan yang sebagian besar insan pers dan para muslimah berjilbab. Juga hadir pembicara lain, seperti Dr. Din Syamsuddin dan Bahtiar Effendy. [bil/hidayatullah.com]

0 comments:

Post a Comment

-
-

Powered By Blogger