Showing posts with label pemilu. Show all posts
Showing posts with label pemilu. Show all posts

Sunday, April 25, 2010

Pemilu Antara Syura Dan Demokrasi (3)

Judul Buku: Dakwah Politik antara Pragmatisme dan Profesionalisme
Penulis: Khalid Ahmad Asy-Syantut
***
Level Pertama Pemilu yang Benar
Seluruh warga baik laki-laki yang telah mencapai usia dua puluh dua tahun dan berijazah SMA, atau perempuan yang telah berusia tiga puluh tahun dan telah berijazah SMA menentukan pilihannya. Logikanya, masyarakat warga yang telah memiliki sifat-sifat tersebut mengetahui atau mendengar secara mutawatir tentang para kandidat laki-laki yang populer di daerahnya yang kapabel untuk menjadi anggota dewan tingkat daerah. Dan mayoritas pemiih yang memenuhi syarat-syarat di atas tahu tugas anggota dewan tingkat daerah. Ia juga bisa membandingkan di antara karakter para kandidat dan kewajiban-

Saturday, April 24, 2010

Pemilu Antara Syura Dan Demokrasi (2)

Judul Buku: Dakwah Politik antara Pragmatisme dan Profesionalisme

Tingkatan-Tingkatan Pemilu
Agar syarat-syarat pemilih terpenuhi sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, dimana pemilu itu bermuatan amanah dan kesaksian, dan pemilu yang diikuti umat Islam tidak seperti yang ada dalam demokrasi yang memperluas basis pemilihan tanpa memerhatikan sejauh mana kredibilitas pemberian suara oleh pemilih, maka pemilu itu harus memiliki tingkatan-tingkatan, atau pemilu dilakukan beberapa fase sebagaimana akan kita lihat. Karena itu, kami membagi para pemilih menjadi beberapa lapisan, dimana masing-masing lapisan berpartisipasi dalam sebagian pemilu. Yaitu bagian dimana pemilu bisa memberikan suaranya dengan amanah dan ikhlas karena Allah. Pada saat itulah pemilih bisa menjalani pemilu sebagai kesaksian, amanah serta loyalitas dan disloyalitas. Lapisan-lapisan ini meliputi seluruh basis pemilih agar mencakup mayoritas warga laki-laki dan perempuan. Kemudian dipersempit pada tingkat kedua, dan jauh dipersempit pada tingkat ketiga dan keempat, sebagaimana berikut:

Thursday, April 22, 2010

Pemilu Antara Syura Dan Demokrasi (2)

Judul Buku: Dakwah Politik antara Pragmatisme dan Profesionalisme
Penulis: Khalid Ahmad Asy-Syantut

Tingkatan-Tingkatan Pemilu
Agar syarat-syarat pemilih terpenuhi sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, dimana pemilu itu bermuatan amanah dan kesaksian, dan pemilu yang diikuti umat Islam tidak seperti yang ada dalam demokrasi yang memperluas basis pemilihan tanpa memerhatikan sejauh mana kredibilitas pemberian suara oleh pemilih, maka pemilu itu harus memiliki tingkatan-tingkatan, atau pemilu dilakukan beberapa fase sebagaimana akan kita lihat. Karena itu, kami membagi para pemilih menjadi beberapa lapisan, dimana masing-masing lapisan berpartisipasi dalam sebagian pemilu. Yaitu bagian dimana pemilu bisa memberikan suaranya dengan amanah dan ikhlas karena Allah. Pada saat itulah pemilih bisa menjalani pemilu sebagai kesaksian, amanah serta loyalitas dan disloyalitas. Lapisan-lapisan ini meliputi seluruh basis pemilih agar mencakup mayoritas warga laki-laki dan perempuan. Kemudian

Wednesday, April 21, 2010

Pemilu Antara Syura Dan Demokrasi

Judul Buku: Dakwah Politik antara Pragmatisme dan Profesionalisme
Penulis: Khalid Ahmad Asy-Syantut


Pemilu dalam Demokrasi
Demokrasi adalah sistem dimana suatu bangsa menentukan pemerintahnya dengan jalan pemilu. (al-Anshari, 385). Sistem ini berkembang sebelum masehi di Athena, dimana penduduknya yang merdeka berjumlah tiga ribu jiwa. Mereka itulah yang berhak memberi suara. Sedangkan pada budak, petani dan pekerja tidak berhak memberi suara. Ketiga ribu orang itu berkumpul di satu lapangan umum, saling berdiskusi, kemudian melakukan voting untuk mengambil suatu keputusan manakala harus melakukannya.

Tuesday, April 20, 2010

Pemilu untuk Menunjukkan Loyalitas dan Disloyalitas (2)

Judul Buku: Dakwah Politik antara Pragmatisme dan Profesionalisme
Penulis: Khalid Ahmad Asy-Syantut

Loyalitas dan Disloyalitas adalah Bagian Fundamental dari Syahadat
Mahmas al-Jal’ud dalam kitabnya al-Muwalah wal-Mu’adah fisy-Syari‘ah al-Islamiyyah (hlm. 131) mengatakan, “Di antara ulama ada yang memasukkan loyalitas dan disloyalitas ke dalam makna La Ilaha Illallah. Berikut ini adalah argumen-argumen mereka:
1. Allah berfirman, “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (az-Zukhruf [43]: 26-27)
Maksudnya, loyalitas kepada Allah dengan mengabdi kepadanya dan disloyalitas kepada setiap sesembahan selain Allah itulah makna La Ilaha Illallah. Karena itu, barangsiapa yang membolehkan syirik, atau loyal terhadap orang-orang musyrik dan membela mereka, atau memusuhi orang-orang yang bertauhid dan memutuskan hubungan dengan mereka, maka ia telah menggugurkan kehormatan La Ilaha Illallah, tidak mengagungkannya dan tidak menjalankan haknya meskipun ia mengaku sebagai muslim.

Thursday, April 15, 2010

Pemilu untuk Menunjukkan Loyalitas dan Disloyalitas (1)

Allah berfirman, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali ‘Imran [3]: 28)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (al-Ma’idah [5]: 51)
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (al-Ma’idah [5]: 55)

Pemilu untuk Memberi Kesaksian

Judul Buku: Dakwah Politik antara Pragmatisme dan Profesionalisme
Penulis: Khalid Ahmad Asy-Syantut

Seyogianya pemilih muslim tahu bahwa ketika ia memberikan suaranya kepada seorang kandidat, maka sesungguhnya ia tengah memberi kesaksian bahwa kandidat tersebut kapabel untuk menjalankan tugas yang akan diembannya, sebagaimana ia memberi kesaksian bahwa ia adalah kandidat terbaik dari daerah pemilihannya. Sudah barang tentu, hal ini menuntut pemilih untuk mengetahui hal-hal berikut,
1. Tugas yang akan diemban kandidat. Apabila pemilu untuk memilih anggota parlemen, maka pemilih harus tahu tugas dan kewajiban anggota parlemen, apa perannya di tengah masyarakat, dan apa urgensi peran ini. Pada saat itu, pemilih muslim dapat membandingkan sifat-sifat kandidat, kewajiban-kewajiban, dan mengetahui siapa di antara mereka yang memenuhi sifat-sifat yang harus ada untuk menjalankan tugas ini. Dan pada saat itulah kesaksiannya menjadi benar dan bermakna.

-
-

Powered By Blogger